Test Knalpot 2 Tak Stainless VS Titanium, Mana Lebih Bertenaga?

 Tipe titanium kecoklatan dan mengembang ketika panas

Banyak yang berteori, katanya peran knalpot di mesin 2-tak sangat penting. Tak semata melepas gas buang, tapi sekaligus sebagai klep.

Volume perut knalpot 2-tak sangat pengaruh terhadap karakter mesin. Sehingga knalpot sekaligus sebagai pengatur utama muntahan gas buang.

Sebagai pembuktian, MOTOR Plus lakukan pengujian knalpot 2-tak. Kebetulan produsen R9 (Racing Generation) menantang untuk menguji produk terbarunya. Untuk Kawasaki Ninja 150R dan 150RR.

Diluncurkan dalam dua versi. Dibedakan dari material pelatnya. Dari stainless steel dan titanium. Membuat ajang pembuktian ini jadi menarik. Karena sekaligus melihat performance ketika aplikasi knalpot steinless dibandingkan dengan titanium.

Pertama, pengujian Kawasaki Ninja 150RR masih menggunakan knalpot asli. Standar ting ting langsung naik dinotes merek Dynojet 250i. Meski namanya Dynojet, tidak ada hubungan dengan Superjet 100, pesawat buatan Sukhoi yang nabrak tebing gunung salak itu

Dari hasil pengujian dinotest terlihat. Power maksimal pakai knalpot standar hanya 22,68 hp pada 9.000 rpm. Sedangkan torsi maksimal 13,50 ft-lbs pada 8.500 rpm.

Selanjutnya pasang knalpot R9 yang terbuat dari bahan stainless steel. Langsung naik dinotest tanpa melakukan seting spuyer. Dari grafik AFR (Air Fuel Ratio) terlihat campuran bahan bakar dan udara sangat miskin.


Hasil grafik pengujian knalpot standar, steinless dan titanium

Artinya kurang banyak bensin. Membuat mesin cepat panas dan busi kering. Inilah bedanya mesin 2-tak dibanding 4-tak. Di mesin 2 langkah, ganti knalpot harus selalu diimbangi seting spuyer. Wajib naik satu atau dua step walau kondisi mesin standar ting ting dari pabrik.

Kalau di mesin 4-tak, kondisi mesin standar pabrik dan dilakukan penggantian knalpot racing, belum tentu spuyer minta naik. Bisa jadi tetap minta spuyer standar.

Nah, menggunakan knalpot racing R9 steinless steel di Ninja RR standar, spuyer harus naik satu step. Pilot-jet yang asalnya 22,5 jadi 25. Begitupun main-jet yang aslinya 170 jadi 180.

Coba dilakukan tes lagi. Power jadi 24,46 hp pada 9.500 rpm dengan power ban luas. Begitupun torsi mengalami kenaikan jadi 13,66 ft-lbs pada 8.500 rpm.

Kemudian disusul ganti knalpot R9 titanium. Power maksimal jadi 24,84/9.500 rpm. Begitupun torsi naik jadi 14,03 ft-lbs/8.500.  (motorplus-online.com) 

HASIL KOMPARASI
1. Standar 22,68 hp/9.000 rpm & 13,50 ft-lbs/8.500 rpm
2. Stainless steel 24,46 hp/9.500 rpm & 13,66 ft-lbs/8.500 rpm
3. Titanium 24,84/9.500 rpm & 14,03 ft-lbs.

Refrensi

http://motor.otomotifnet.com/read/2012/05/24/330937/39/13/Test-Knalpot-2-Tak-Stainless-VS-Titanium-Mana-Lebih-Bertenaga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: